Main content

Menurut World Bank, polusi dalam rumah menyebabkan sekitar 165.000 kematian dini setiap tahunnya di Indonesia. Salah satu penyumbang terbesar polusi jenis ini adalah penggunaan tungku tradisional untuk memasak. Meski berbahaya, masih banyak keluarga di Indonesia yang bergantung pada tungku tradisional. Di Kulon Progo misalnya, lebih dari separuh rumah tangga di kabupaten ini masih menggunakan tungku tradisional dengan bahan bakar kayu untuk memasak.

Meski sudah adanya alternatif seperti kompor gas atau listrik, tungku tradisional masih menjadi pilihan utama masyarakat Kulon Progo. Alasannya, ketersediaan gas LPG terbilang terbatas, sementara ketersediaan kayu bakar cukup melimpah di daerah mereka. Terlebih lagi, industri rumahan gula aren cukup besar di kabupaten ini. Mengingat proses pembuatan gula yang lama, penggunaan tungku kayu bakar dinilai lebih ekonomis dibanding menggunakan gas LPG.

Namun, ketersediaan kayu bakar yang melimpah menghadirkan tantangan tersendiri. Kayu bakar memang dapat menjadi bahan bakar yang lebih mudah dan murah; namun, ketersediaannya yang melimpah membuat masyarakat lalai untuk menggunakannya dengan hemat dan efisien. Kurangnya pengetahuan tentang masalah energi membuat masyarakat mengabaikan risiko kesehatan dari memasak dengan tungku tradisional.

Melihat permasalahan tersebut, YLKI[1] bekerjasama dengan CSR PT Angkasa Pura I, menjalankan sebuah program untuk memperkenalkan dan mendorong penggunaan tungku sehat hemat energi (TSHE) di Kulon Progo. TSHE sendiri merupakan tungku yang dirancang sedemikian rupa untuk meningkatkan efisiensi proses pembakaran dan mengurangi polusi dalam rumah. Menurut Yayasan Dian Desa, TSHE terbukti bisa meningkatkan efisiensi pembakaran hingga 40 persen, sehingga secara langsung juga mengurangi emisi. Dalam program kampanye ini, TSHE yang digunakan adalah TSHE Jolentho yang tungku yang terdiri dari tiga lubang dan dilengkapi dengan cerobong asap.

Program kampanye TSHE Jolentho di Kulon Progo ini berlangsung mulai tahun 2018 dan berakhir di kuartal akhir tahun 2019. Melalui program ini, YLKI memasang sekitar 200 TSHE untuk keluarga di empat desa di Kulon Progo yakni Grindang, Tangkisan, Madigondo dan Sinogo. Sebagian besar penerima TSHE dalam program ini mempunyai usaha rumahan seperti pembuat gula semut atau pembuat growol (makanan yang terbuat dari ketela). Selain mewujudkan pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan, program ini juga diharapkan bisa meningkatkan perekonomian masyarakat.

Setelah menggunakan TSHE Jolentho, masyarakat penerima manfaat mengaku merasakan perubahan yang signifikan, utamanya dalam hal penghematan kayu dan lebih cepatnya proses produksi gula maupun growol. “Tungkunya sudah kami gunakan setiap hari. Kayu lebih irit dan perabotan tidak begitu hitam,” tutur Mugiran dari Desa Sinogo menceritakan pengalamannya. Manfaat yang besar ini juga menarik minat masyarakat sekitar untuk beralih menggunakan TSHE Jolentho. Ketua Kelompok Tani Mekar Mandiri Desa Tangkisan 2, Sumardi, menuturkan, “Meski awalnya ragu, antusiasme warga tinggi, apalagi setelah melihat sendiri dampak positifnya.”

Mengingat jumlah bantuan tungku yang terbatas sementara antusiasme masyarakat terbilang tinggi, program ini juga memberikan edukasi tentang penggunaan revolving fund atau dana bergulir sesuai dengan kesepakatan masing-masing desa. Sehingga nantinya memudahkan masyarakat lain di desa-desa tersebut yang juga ingin beralih menggunakan TSHE Jolentho.

previous arrow
next arrow
Slider

Pentingnya informasi, edukasi dan akses

Melalui program ini YLKI juga memberikan edukasi kepada masyarakat tentang dampak penggunaan energi terhadap lingkungan. Menggunakan alat memasak yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan merupakan salah satu langkah penting dalam upaya mengurangi polusi dalam rumah dan emisi karbon secara umum. Namun yang lebih penting lagi adalah kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan energi secara bijak. Seberapa pun modern alat yang digunakan, jika masyarakat abai dan tidak hemat dalam pemanfaatannya maka tetap saja akan berakibat buruk bagi lingkungan.

Selain kesadaran masyarakat, dukungan dari Pemerintah juga sangat dibutuhkan dalam transisi ini. Tidak hanya dari segi edukasi, tapi juga penyediaan alternatif energi ramah lingkungan yang lebih mudah diakses dan inklusif. Tanpa informasi, edukasi dan ketersediaan produk, maka transisi menuju pemanfaatan energi yang ramah lingkungan akan jalan di tempat.

[1] YLKI tergabung dalam kemitraan strategis Strategic Partnership for Green and Inclusive Energy (SP-Energy) yang diinisiasi oleh Hivos.