Main content

[su_row][su_column size="1/4" center="no" class=""]

[su_button url="https://energiterbarukan.org/assets/2019/12/SEMAI-Perempuan-dan-Energi-Terbarukan.pdf" target="blank" style="flat" background="#d61214" size="6" center="yes"]Unduh[/su_button]

[/su_column] [su_column size="3/4" center="no" class=""]

Isu energi selama ini dianggap bukan isu perempuan atau tidak dekat dengan kelompok perempuan. Perempuan hanya ditempatkan sebagai konsumen energi, itupun dengan kondisi mayoritas perempuan tidak menjadi konsumen energi yang kritis. Bicara sektor energi dianggap erat kaitannya dengan sektor tehnologi baik yang hardware maupun software, dimana lagi-lagi perempuan tidak diperhitungkan dalam sektor ini. Disisi lain perempuan sendiri juga kadang enggan dengan dunia tehnik semacam ini. Termasuk jika kita bicara energi baru terbarukan.

Koalisi Perempuan Indonesia yang memiliki 18 kelompok kepentingan sebenarnya telah lama bersentuhan dengan isu energi terbarukan, terutama di kelompok kepentingan perempuan petani yang memiliki potensi sumber EBT dari kotoran hewan ternak mereka. Sekitar tahun 2013, Koalisi Perempuan Indonesia cabang Sumba Tengah-Nusa Tenggara Timur telah dilatih untuk mengolah kotoran ternak menjadi biogas yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik untuk penerangan dan gas untuk memasak.

[/su_column][/su_row]