Main content

Rembang merupakan salah satu kabupaten penghasil garam krosok di Indonesia. Menarik bahwa kontribusi garam krosok bagi PDRB Rembang, ternyata cukup signifikan. Tertarik untuk mempelajarinya lebih lanjut, termasuk bagaimana peran energi terbarukan dapat berkontribusi pada pendapatan petani garam, kami pun mengunjungi kabupaten Rembang. Kami melaksanakan diskusi kelompok terfokus, di mana Pemerintah Kabupaten, petani garam laki-laki dan perempuan, menjadi bagian dari diskusi tersebut.

Kabupaten Rembang memiliki garis pantai sepanjang 65-70 km, dengan curah hujan yang cukup rendah – baik secara volume maupun secara frekuensi - sehingga memungkinkan garam untuk diproduksi di wilayah ini. Salah seorang peserta juga menyatakan bahwa, menjadi petani garam di Rembang menjadi profesi yang cukup menarik bagi orang-orang di Rembang, karena tidak ada industri skala besar di Rembang. Itu sebabnya, kebanyakan penduduk kota Rembang menjadi petani garam.

Kunjungan kami ke kabupaten Rembang sebenarnya dalam rangka untuk memperkenalkan energi terbarukan di dalam produksi bahan pangan, berdasarkan praktik-praktik yang kami temui di beberapa wilayah Indonesia. Selain itu, kami juga ingin melakukan dialog dengan para pemangku kepentingan, terkait dengan produksi garam krosok di kota Rembang.  Sebelum kami sampai ke tempat pertemuan, kami melewati hamparan tambak garam yang sangat luas, dengan gundukan-gundukan putih yang merupakan garam krosok ‘segar’, hasil panen.

Proses untuk memproduksi garam membutuhkan sekitar 10-12 petak lahan. Masing-masing petak memiliki fungsinya; apakah untuk mengalirkan air asin yang segar dari laut, atau kah benar-benar untuk mengendapkan garam. Para petani juga dapat menggunakan bio-membran dengan harga sekitar 2 juta rupiah per satu petak lahan, untuk menghasilkan garam dengan kualitas yang lebih baik. Pada umumnya, bio-membran ini dapat digunakan sampai dengan 3 tahun lamanya.

Menarik ketika kami mengetahui potensi angin di Rembang ternyata cukup besar untuk dimanfaatkan. Potensi tersebut memberikan ide bagi masyarakat setempat, untuk menggunakan angin guna menggerakkan pompa agar dapat memompa air asin, di dalam proses pembuatan garam. Pada waktu kami mengunjungi salah satu lahan tambak garam, kami melihat adanya beberapa kincir angin sederhana yang terbuat dari kayu, bergerak cukup kuat, memindahkan air dari dataran rendah ke dataran yang lebih tinggi.

Walau demikian, memang tidak semua petani garam memanfaatkan tenaga angin untuk memompa air. Beberapa masih menggunakan generator diesel. Bagi petani yang menggunakan generator diesel, mereka menyatakan bahwa saat ini semakin sulit bagi mereka untuk memompa air laut ke tambak garam mereka. Ketika beban kerja pompa meningkat, tentunya mereka membutuhkan lebih banyak diesel/solar, agar pompa dapat berfungsi. Ini artinya, biaya produksi mereka pun menjadi meningkat. Tentu saja ini menjadi beban tersendiri bagi para petani, apalagi dengan keadaan di mana harga garam krosok saat ini turun drastis. Belum lagi ditambah dengan biaya pekerja, yang saat ini berkisar antara Rp. 50,000 – Rp. 70,000 per hari.

Potensi lainnya yang kemungkinan dapat menggunakan energi terbarukan terletak pada gudang penyimpanan garam. Saat ini, garam yang dihasilkan hanya diletakkan begitu saja di dalam sebuah gudang semi-permanen, tanpa memiliki sistem insulasi untuk mempertahankan kualitas garam dari sisi kadar air.

Menilik pada proses pembuatan garam, sebenarnya masih banyak peluang penggunaan energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan. Walau demikian, kajian lebih dalam terkait dengan penggunaan energi terbarukan masih perlu dilakukan, agar dapat lebih efektif dalam produksi garam.

Belajar dari pengalaman di kabupaten Rembang, ternyata masyarakat setempat telah mengenali potensi angin setempat, dan memanfaatkannya untuk membantu mereka. Sebuah pengalaman positif yang memberikan kesadaran bahwa masyarakat sebenarnya mengenali manfaat energi terbarukan untuk berkontribusi dalam peningkatan ekonomi mereka. Menyebarluaskan penggunaan energi terbarukan seperti ini ke tempat lain, mungkin dapat memberikan inspirasi bagi petani lainnya dalam memanfaatkan energi terbarukan.