Main content

Dengan sumber alami yang mudah ditemukan di sekitar dan tanpa polutan, energi terbarukan (ET) terkenal dengan sifatnya yang ramah lingkungan. Namun ternyata, tanpa perencanaan dan pengelolaan yang baik, pengembangan ET juga bisa berdampak buruk dan tidak berkelanjutan. Lalu, bagaimana menghindari atau meminimalkan dampak ini?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Chrisandini selaku Climate Change Coordinator WWF Indonesia hadir menjadi pembicara pembicara dalam Forum Belajar keempat yang diselenggarakan secara daring pada 8 Juli lalu. Chrisandiri secara khusus membahas aspek keberlanjutan ET dalam pengembangan PLTA guna menghindari atau meminimalkan dampak sosial dan lingkungan di tingkat lokal.

Forum Belajar sendiri merupakan seri diskusi online yang diinisiasi oleh WWF-Indonesia bersama dengan CSO dan NGO yang memiliki perhatian besar dalam isu ET dan konservasi energi, yakni Hivos, 350 Indonesia, Aceh Geothermal Forum, Coaction Indonesia, IESR, Indonesian Parliamentary Center, Oxfam, dan Yayasan Indonesia Cerah, sebagai ruang untuk menambah pengetahuan dan berbagi pengalaman serta berjejaring dalam menyuarakan dan mendorong transisi menuju ET yang inklusif dan berkelanjutan.

Isu keberlanjutan PLTA

“Tidak ada pengembangan ET yang tidak berdampak pada lingkungan. Yang bisa kita upayakan adalah membuat dampaknya seminimal mungkin, dengan perencanaan yang baik dan mempertimbangkan berbagai faktor seperti lingkungan dan sosial,” begitu kata Chrisandini membuka presentasinya.

Pembangunan bendungan untuk PLTA yang tidak memiliki perencanaan baik misalnya, bisa berdampak pada keseimbangan ekosistem sungai dan lingkungan di sekitarnya. Selain itu, perencanaan yang buruk juga bisa memunculkan isu sosial yang disebabkan oleh konflik pembukaan lahan, penggenangan lahan, maupun konstruksi infrastruktur.

Sayangnya, menurut Chrisandini, dampak-dampak pengembangan ET ini masih belum begitu diketahui dan mendapat perhatian. Chrisandini menyampaikan bahwa sejauh ini banyak PLTA yang belum menjadikan faktor lingkungan dan sosial sebagai pertimbangan dalam perencanaan pengembangan dan pemilihan lokasinya. “Pertimbangan daya listrik yang akan dihasilkan (aspek ekonomi) biasanya menjadi pertimbangan yang diprioritaskan,” jelas Chrisandini.

Padahal, abai terhadap faktor lingkungan dan sosial ini juga bisa berpengaruh pada daya listrik dalam jangka panjang. Desain bendungan yang tidak mendukung aliran alami sungai misalnya, bisa mempengaruhi kapasitas produksi produksi PLTA di kemudian hari akibat kandungan sedimen yang menumpuk di waduk.

Pendekatan bijaksana dalam perencanaan PLTA berkelanjutan

Menurut Chrisandini, ada tiga pendekatan yang perlu dilakukan dalam perencanaan PLTA yang berkelanjutan. Pertama, right combination, yakni perlunya mengkombinasikan jenis sumber ET lain dalam sistem jaringan listrik. Ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap produksi listrik PLTA dan membatasi jumlahnya.

Yang kedua adalah right place, yakni memilih lokasi yang memberikan manfaat optimal dengan dampak negatif paling sedikit. Menghindari tempat yang bernilai lingkungan atau sosial yang tinggi dan mengarahkan PLTA ke suatu lokasi di mana sungai bisa mempertahankan manfaat atau jasa lingkungannya merupakan beberapa hal yang bisa diupayakan oleh pengembang. Koordinasi yang baik antara dinas atau kementerian terkait sangat diperlukan untuk mencapai hal tersebut. Misalnya, jangan sampai PLTA (KESDM) mengganggu kawasan konservasi (KLHK).

Dan yang terakhir adalah right project, yakni memastikan bahwa PLTA yang dibangun adalah proyek yang berkualitas tinggi dengan menerapkan praktik internasional terbaik dalam pengembangannya. Pengembang bisa menggunakan tool untuk mengkaji performa dari suatu PLTA seperti HSAP dan HESG yang bisa diterapkan di semua tahapan proyek mulai dari persiapan hingga operasi.