Main content

Menurut data BPS, hingga tahun 2019, masih ada ratusan ribu rumah tangga di Indonesia yang belum teraliri listrik. Kondisi geografis Indonesia yang berupa kepulauan menjadi tantangan untuk menjangkau desa-desa di daerah terdepan, terpencil dan tertinggal (3T). Dengan potensi yang besar, energi terbarukan (ET) diproyeksikan bisa menjadi solusi untuk permasalahan ini.

Untuk membahas peluang tersebut, Dwi Novitasari, Pusat Studi Energi (PSE) UGM, Rebekka S. Angelyn, Yayasan Rumah Energi (YRE), dan Gus Firman, Hivos hadir menjadi pembicara dalam Forum Belajar keenam yang diselenggarakan secara daring pada 22 Juli lalu. Para narasumber menyampaikan materi tentang konsep pengembangan, tantangan, peluang dan pembelajaran pengembangan ET untuk meningkatkan akses energi serta pemberdayaan ekonomi masyarakat di wilayah pulau-pulau kecil.

Forum Belajar sendiri merupakan seri diskusi online yang diinisiasi oleh WWF-Indonesia bersama dengan CSO dan NGO yang memiliki perhatian besar dalam isu ET dan konservasi energi, yakni Hivos, 350 Indonesia, Aceh Geothermal Forum, Coaction Indonesia, IESR, Indonesian Parliamentary Center, Oxfam, Yayasan Sandika, dan Yayasan Indonesia Cerah, sebagai ruang untuk menambah pengetahuan dan berbagi pengalaman serta berjejaring dalam menyuarakan dan mendorong transisi menuju ET yang inklusif dan berkelanjutan.

Pentingnya pelibatan masyarakat dalam pengembangan ET di pelosok

Hingga 2019, Kementerian ESDM melaporkan bahwa rasio elektrifikasi (RE) di Indonesia sudah mencapai 98,89 persen. Menurut Dwi, program pemerintah seperti pembangunan PLTS untuk pedesaan dan penyediaan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) di daerah pelosok ikut berkontribusi pada peningkatan RE dalam beberapa tahun terakhir ini.

Berkaca dari pengalaman PSE UGM terlibat dalam pengembangan ET di beberapa pulau kecil di Jawa Tengah, Dwi menyampaikan bahwa di luar pencapaian RE, pengembangan ET  punya potensi besar mensejahterakan masyarakat dalam segi sosial dan ekonomi. Menurut Dwi, pengembangan ET perlu disertai komponen usaha produktif dan peningkatan kapasitas masyarakat.

“Kita tidak boleh hanya memandang masyarakat sebagai objek saja, mereka juga subjek yang harus dilibatkan.” Pelibatan ini, menurut Dwi, bisa meningkatkan sense of ownership masyarakat. Rasa kepemilikian ini penting untuk keberlanjutan program karena masyarakat ikut andil dalam mengelola dan menjaga pembangkit ET.

Berbagi pengalaman tentang program BIRU (Biogas Rumah), Rebekka juga menyinggung tentang sense of ownership ini. Salah satu skema pembiayaan BIRU misalnya, memerlukan kontribusi dana pribadi dari pengguna. Skema ini membuat pengguna merasa ‘membeli’ dan memiliki yang secara langsung akan mempengaruhi cara mereka merawat instalasi biogas itu sendiri. Tentunya, BIRU juga memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat untuk meningkatkan kapasitas mereka terlebih dahulu.

Senada dengan Dwi dan Rebekka, Firman juga menyampaikan bahwa pelibatan masyarakat dari awal merupakan kunci dari keberhasilan program Sumba Iconic Island (SII). Firman menekankan pentingnya feasibility study untuk melihat seperti apa kondisi masyarakat, mulai dari segi kebutuhan, potensi, kemampuan membayar, dan kapasitas mereka. Menurut Firman, banyak pengembangan ET yang mangkrak atau bahkan menerima penolakan karena luput mempertimbangkan hal-hal tersebut.

Untuk memastikan keberlanjutan tetap terjaga, merekrut orang lokal dalam implementasi program juga hal yang penting untuk dilakukan. “Supaya knowledge tetap stay, karena NGO tidak selamanya di sana,” jelas Firman. Dengan kata lain, masyarakat dipersiapkan untuk mandiri sehingga ketika sebuah program berakhir, mereka mampu mengelola apa yang sudah dibangun dan meneruskan atau bahkan mengembangkan manfaat yang sudah ada.

Diskusi Forum Belajar #6 bisa disimak secara lengkap di sini.