Main content

Pada 23 Juli 2020, Mongabay kembali menyelenggarakan workshop untuk memberikan informasi terkait pengembangan dan isu-isu energi terbarukan (ET) di Indonesia kepada para jurnalis. Diselenggarakan secara daring, workshop kali ini membahas progres pengembangan ET di Sulawesi Selatan (Sulsel) dan pembelajaran dari proyek ET yang sudah ada di provinsi ini dengan mengundang Achmad Habib, Dinas ESDM Sulsel, Hasriadi Masalam, Komunitas Ininnawa, dan Harianto Albarr, Praktisi ET sebagai narasumber. Sejumlah jurnalis dari berbagai media arus utama lokal dan nasional ikut serta dalam acara ini.

Workshop Isu Energi Terbarukan untuk Jurnalis ini merupakan bagian dari rangkaian program Media Fellowship yang dijalankan oleh Mongabay dengan dukungan dari Hivos melalui kerangka Strategic Partnership for Green and Inclusive Energy (SP-Energy). Setelah mengikuti workshop, jurnalis yang terpilih bisa mengikuti program fellowship yang memungkinkan mereka untuk meliput isu energi terbarukan dengan pembinaan dari Mongabay dan dukungan dana dari program. Kegiatan ini diharapkan bisa meningkatkan peliputan media terkait isu energi terbarukan yang secara langsung bisa menambah pengetahuan dan pemahaman masyarakat terkait ET.

Progres pengembangan ET di Sulsel

Berbicara tentang kondisi energi di Sulsel, Achmad Habib menuturkan bahwa hingga kini bauran ET di Sulsel baru mencapai sekitar 16,8 persen. Untuk ketenagalistrikan sendiri, bauran ET di Sulsel sudah mencapai sekitar 37 persen. Menurut Habib, capaian ini tersebut berasal dari pengembangan ET yang sudah ada di provinsi ini yakni PLTA yang mempunyai potensi besar di provinsi ini, biogas skala rumah tangga, PLTS, PLTB, dan PLTBm (biomassa) dari buah talak.

Pada tahun 2025, Sulsel menargetkan bauran ET sebesar 27,3 persen dengan meningkatkan potensi ET yang sudah ada khususnya PLTA. Sayangnya, meski menargetkan bauran ET yang cukup besar, Habib mengakui bahwa batubara masih akan terus mendominasi di penyediaan energi di Sulsel dalam beberapa tahun mendatang. “Sepertinya akan terus bertambah. Sepanjang bahan bakar fosil masih mudah dan murah, maka ET masih akan terus sulit bersaing,” jelas Habib.

Oleh karena itu, menurut Habib, iklim investasi pengembangan ET di Sulsel harus terus didorong. Beberapa strategi kebijakan yang direncanakan Sulsel diantaranya adalah dengan menginisiasi dan melakukan mediasi antara pihak swasta atau investor dengan PLN, diseminasi informasi potensi ET, serta mempercepat perizinan melalui satu pintu bagi investasi sektor ET dan ketenagalistrikan.

Selain strategi kebijakan, Habib juga menekankan pentingnya persepsi energi di luar tujuan penerangan. “Akses energi adalah trigger untuk peningkatan ekonomi. Banyak yang hanya mementingkan penerangan, padahal harusnya persepsinya beyond penerangan. Untuk masyarakat pulau misalnya, cool storage lebih penting dibanding penerangan,” ujar Habib.

Pengalaman pengembangan ET di Sulsel

Berbicara di acara yang sama, Hasriadi Masalam dari Komunitas Ininnawa membagikan pengalaman program “Edukasi Kedaulatan Pangan dan ET di Kaki Gunung Saraung” yang digagas komunitasnya.

Bekerjasama dengan SRP Payopayo, LPTP INSIST, dan Dewan Mahasiswa Helsinki; Komunitas Ininnawa menginisiasi program kedaulatan pangan dan energi terdesentralisasi, berskala kecil, berfokus kebutuhan lokal yang diselenggarakan di tiga daerah di Sulsel dan Sulbar pada 2009 - 2013. Beberapa kegiatan yang dilakukan program di antaranya adalah revitalisasi pengetahuan petani, pengembangan biogas, pemanfaatan minyak jarak, dan penggunaan tungku sehat hemat energi (TSHE).

Hasriadi membagikan dua pembelajaran penting dari program tersebut, yakni pentingnya merawat kerja kolektif rutin serta melibatkan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan. “Secara kuantitatif mungkin baru sedikit yang mengadopsi ET, tapi capaian perubahan kualitatif yang lebih penting yakni menumbuhkan kembali pendekatan kerja kolektif di masyarakat,” tutur Hasriadi.

Menurut Hasriadi, pengembangan ET mestinya tidak hanya fokus pada teknologi, tapi juga tentang mengembangkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Jadi masyarakat harus dilibatkan dan ditingkatkan kapasitasnya. Maka manfaat ET akan lebih dari sekadar pemenuhan energi, masyarakat juga bisa berkembang.

Senada dengan Hasriadi, Harianto Albarr, Praktisi dan Pendamping pengembangan ET juga mengungkapkan pentingnya pelibatan masyarakat. Berkaca dari pengalaman membantu menyediakan ET, khususnya PLTMH, di desa-desa pelosok di Sulawesi dan di Indonesia Timur, Harianto menuturkan bahwa umumnya masyarakat sangat antusias dan ingin dilibatkan dalam pengembangan ET. “Akses energi sangat penting bagi masyarakat. Tidak hanya untuk penerangan, akses energi bisa membuka akses lain seperti informasi,” jelasnya. Antusiasme berlandaskan kebutuhan ini lah yang menurut Harianto harus dimanfaatkan untuk mewujudkan kedaulatan energi yang terjangkau dan berkualitas di seluruh pelosok tanah air.