Main content

Pada 24 Juli 2020, Mongabay kembali menyelenggarakan workshop untuk memberikan informasi terkait pengembangan dan isu-isu energi terbarukan (ET) di Indonesia kepada para jurnalis. Setelah sebelumnya berfokus pada NTB dan Sulawesi Selatan, workshop kali ini membahas progres pengembangan ET di Jawa Timur dan pembelajaran dari proyek ET yang sudah ada di provinsi ini. Oni Setiawan dari Dinas ESDM Jatim dan Ary Bachtiar K. Putra dari Pusat Penelitian Energi Berkelanjutan - ITS Surabaya hadir menjadi narasumber. Sejumlah jurnalis dari berbagai media arus utama lokal dan nasional ikut serta dalam acara ini.

Workshop ini merupakan bagian dari rangkaian program Media Fellowship yang dijalankan oleh Mongabay dengan dukungan dari Hivos melalui kerangka Strategic Partnership for Green and Inclusive Energy (SP-Energy). Setelah mengikuti workshop, jurnalis yang terpilih bisa mengikuti program fellowship yang memungkinkan mereka untuk meliput isu energi terbarukan dengan pembinaan dari Mongabay dan dukungan dana dari program. Kegiatan ini diharapkan bisa meningkatkan peliputan media terkait isu energi terbarukan yang secara langsung bisa menambah pengetahuan dan pemahaman masyarakat terkait ET.

Progres pengembangan ET di Jatim

Berbicara tentang perkembangan ET di Jatim, Oni Setiawan menyampaikan bahwa provinsi memiliki potensi ET yang besar dan belum dimaksimalkan. Untuk listrik saja, Jatim baru memanfaatkan 3,28 persen yakni 320,59 MW dari total potensi ET untuk pembangkit listrik yang mencapai 25,5 GW. Secara keseluruhan, hingga tahun 2019, Jatim baru mencapai bauran ET sebesar 11,7 persen.

Untuk tahun 2025, Oni menuturkan, Jatim menargetkan bauran ET sebesar 17,09 persen dengan kapasitas terpasang sekitar 4.190 MW. Guna mencapai ini, Pemerintah Provinsi Jatim akan fokus meningkatkan pengembangan beberapa jenis pembangkit ET yakni PLTA, PLTS atap, PLT Panas Bumi, PLTMH, PLT Sampah, PLTB dan Biofuel.

Oni juga memaparkan rencana kebijakan ET yang akan dilakukan Pemprov Jatim. Dari sektor swasta, menurut Oni, Pemerintah Jatim akan melakukan upaya peningkatan investasi pengembangan ET dan pelaksanaan audit energi di perusahaan. Sementara dari sektor pemerintah, Jatim akan terus melakukan upaya peningkatan kualitas data potensi ET melalui survei, data updating, dan feasibility studies sembari meningkatkan pemanfaatan ET dengan membangun pembangkit ET.

Beberapa contoh rencana kebijakan tersebut di antaranya adalah pemberian insentif ke daerah untuk pembangunan ET sesuai prestasi, penetapan PLTS atap menjadi kebijakan smart province di Jatim, adanya MoU Gubernur dan PLN tentang kemudahan pemasangan PLTS rooftop ekspor impor di Jatim, dan meningkatkan pemanfaatan biofuel baik untuk transportasi maupun industri.

Peranan perguruan tinggi mendorong bauran ET

Pada acara yang sama, Ary Bachtiar K. Putra membagikan pengalaman tentang bagaimana Pusat Penelitian Energi Berkelanjutan - ITS Surabaya ikut mendukung pemerintah dalam pengembangan ET. Dengan beranggotakan dosen peneliti dari bidang keilmuan terkait, PPEB berperan melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terkait dengan intensifikasi, diversifikasi dan konservasi energi, sebagai bentuk kontribusi mereka.

Menurut Ary, upaya penelitian ini bisa melahirkan peluang bagi perguruan tinggi untuk terlibat lebih lanjut. Pada umumnya, ada tiga pendekatan potensial terkait hasil penelitian yang bisa dilakukan perguruan tinggi dalam pengembangan ET. Yang pertama adalah dengan menjual intellectual property right (IPR) kepada perusahaan untuk kemudian dikembangkan menjadi produk atau layanan untuk pengembangan ET. Kedua adalah dengan melakukan joint/contract research dengan perusahaan terkait yang sudah ada. Selain bekerjasama dengan perusahaan yang sudah ada, perguruan tinggi juga bisa mendirikan dan menginkubasi startup sendiri mengembangkan produk dan layanan, atau bahkan melakukan M&A (merger and acquisition) dengan perusahaan yang sudah ada.

Beberapa contoh program yang sudah dijalankan oleh PPEB ITS di antaranya adalah pengembangan bioavtur abu sekam padi, listrik dari limbah tahu, dan ITS goes solar.