Main content

Secara demografis, Indonesia didominasi oleh penduduk berusia muda dan produktif. Dengan jumlahnya yang besar, kelompok anak muda punya peluang untuk berperan secara signifikan dalam pengembangan energi terbarukan (ET) di negara ini.

Untuk membahas peluang tersebut, Gabriela Kalalo dari Koaksi Indonesia, Irfan Toni dari 350.org, dan Satrio Swandiko dari Greenpeace hadir menjadi pembicara dalam Forum Belajar ketujuh yang diselenggarakan secara daring pada 29 Juli lalu. Para narasumber membahas tentang bagaimana anak muda bisa berorganisasi dan menangkap peluang kerja di sektor ET.

Forum Belajar sendiri merupakan seri diskusi daring yang diinisiasi oleh WWF-Indonesia bersama dengan CSO dan NGO yang memiliki perhatian besar dalam isu ET dan konservasi energi, yakni Hivos, 350 Indonesia, Aceh Geothermal Forum, Coaction Indonesia, IESR, Indonesian Parliamentary Center, Oxfam, Yayasan Sandika, dan Yayasan Indonesia Cerah, sebagai ruang untuk menambah pengetahuan dan berbagi pengalaman serta berjejaring dalam menyuarakan dan mendorong transisi menuju ET yang inklusif dan berkelanjutan.

Pengorganisasian kelompok anak muda

Menurut Gabriela, berdasarkan hasil survei persepsi publik terkait ET yang dibuat Koaksi Indonesia, anak muda sebenarnya sudah sadar dan punya ketertarikan terhadap pengembangan ET. Namun, mereka masih minim pengetahuan terkait ET dan kontribusi yang bisa mereka berikan. Padahal dengan jumlah yang besar, anak muda bisa mendorong perubahan signifikan. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah maupun organisasi untuk menggandeng kelompok anak muda ini.

Irfan mencontohkan pengalaman 350.org Indonesia mendorong pengorganisasian anak muda khususnya dalam isu perubahan iklim. Menurut Irfan, ada enam elemen penting dalam pengorganisasian anak muda. Yang pertama adalah distributed events, adanya informasi tentang event dan aksi yang terjadi di sekitar. Kemudian local groups, setelah anak muda tahu tentang aksi yang ada mereka akan bergabung dan terhubung dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan dan perhatian yang sama terhadap sebuah isu. Yang ketiga adalah digital tools, yakni adanya alat atau platform yang bisa mereka akses untuk berkampanye dan menjalankan aksinya. Keempat adalah arts+visuals, yakni adanya resources yang memungkinkan mereka berkampanye dengan kreatif. Selain itu, organisasi juga memberikan training untuk meningkatkan kapasitas anak muda dalam hal perencanaan, berstrategi, dan berkampanye. Nantinya, akan tercipta partnership yang memungkinkan terjalinnya kerjasama dan jejaring dengan berbagai kelompok kepentingan lainnya.

“Mulai dari kita, mulai dari yang sederhana, mulai sekarang juga; harus menjadi mantra kita,” ajak Irfan. Menurutnya, anak muda bisa mulai berjejaring dengan mengobrol dengan orang-orang yang punya ketertarikan dan kepedulian yang sama. Memanfaatkan platform media sosial untuk berkampanye juga merupakan cara sederhana dan mudah, namun bisa berdampak signifikan.

Peluang kerja di sektor ET

Selain berorganisasi dan berkampanye, anak muda juga bisa berperan mengisi atau bahkan menciptakan green jobs--pekerjaan yang mendukung pembangunan berkelanjutan dan rendah emisi. Green jobs biasanya berkaitan dengan pelestarian lingkungan, pengurangan emisi dan pengembangan ET. Beberapa di antaranya seperti eco fashionpreneur, urban farmer, dan eco design architect.

Di Indonesia sendiri, menurut Satrio, peluang green jobs masih terbilang rendah akibat lambatnya pengembangan ET. Satrio menyampaikan, jika merujuk RUPTL 2019, lapangan kerja di sektor ET (3.900) pada 2030 diprediksi akan masih kalah jauh dibanding sektor batu bara (57.210). Padahal, menurut Satrio, apabila Indonesia mengikuti jejak Vietnam yang fokus mengembangkan ET sejak 2017, dari sektor energi surya saja Indonesia harusnya saat ini sudah bisa menciptakan lebih dari 100.000 lapangan pekerjaan. Oleh karena itu, pengembangan ET harus benar-benar didorong.

Bagaimanapun, Satrio berpendapat bahwa, selain mendorong pemerintah, anak muda punya banyak cara untuk menciptakan peluang green jobs sendiri. Mengikuti program inkubator untuk mendirikan startup di sektor ET misalnya, bisa menjadi satu jalan yang bisa diperhitungkan. “Bahkan hal yang sederhana seperti pergi ke desa-desa dan engage langsung dengan masyarakat untuk tahu kebutuhan energi mereka, lalu bekerjasama dan memanfaatkan dana koperasi setempat untuk menjalankan program [ET], juga bisa dilakukan,” tutur Satrio.

Hasil “Survei Persepsi Publik Terkait Energi Terbarukan” oleh Koaksi Indonesia bisa selengkapnya diunduh di sini.